love You

Loading...
Loading...

Rabu, 14 April 2010

Tips Pacaran Ala kristen

Pacaran bagi orang Kristen ditandai dengan:

1.Proses Peralihan dari Subjective Love ke Objective Love.

Subjective love sebenarnya tidak berbeda daripada manipulative love yaitu kasih dan pemberian yang diberikan untuk memanipulir orang yang menerima. Pemberian yang dipaksakan sesuai dengan kemauan dan tugas dari si pemberi dan tidak memperhitungkan akan apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh si penerima. Sesuai dengan sinful naturenya, setiap anak kecil telah belajar mengembangkan subjective love. Dan subjective love ini tidak dapat menjadi dasar pernikahan. Pacaran adalah saat yang tepat untuk mematikan sinful nature tsb, dan mengubah kecenderungan subjective love menjadi objective love. Yaitu memberi sesuai dengan apa yang baik yang betul-betul dibutuhkan si penerima

2.Proses Peralihan dari Envious Love ke Jealous Love.
Envious sering diterjemahkan sama dengan jealous yaitu cemburu. Padahal envious mempunyai pengertian yang berbeda.Envious adalah kecemburuan yang negatif yang ingin mengambil dan merebut apa yang tidak menjadi haknya. Sedangkan jealous adalah kecemburuan yang positif yang menuntut apa yang memang menjadi hak dan miliknya. Tidak heran, kalau Alkitab sering menyaksikan Allah sebagai Allah yang jealous, yang cemburu (misal: 20:5). Israel milik-Nya umat tebusan-Nya. Kalau Israel menyembah berhala atau lebih mempercayai bangsa-bangsa kafir sebagai pelindungnya, Allah cemburu dan akan merebut Israel kembali kepada-Nya. Begitu pula dengan pergaulan pemuda-pemudi. Pacaran muda-mudi Kristen harus ditandai dengan jealous love. Mereka tidak boleh menuntut sesuatu yang bukan atau belum menjadi haknya ( seperti: hubungan seksual pra-nikah, wewenang mengatur kehidupannya, dsb). Tetapi mereka harus menuntut apa yang memang menjadi haknya, seperti kesempatan untuk dialog, pelayanan ibadah pada Allah dalam Tuhan Yesus, dsb.

3.Proses Peralihan dari Romantic Love ke Real Love.
Romantic love adalah kasih yang tidak realistis, kasih dalam alam mimpi yang didasarkan pada pengertian yang keliru bahwa kehidupan ini manis semata-mata. Muda-mudi yang berpacaran biasanya terjerat pada romantic love. Mereka semata-mata menikmati hidup sepuas-puasnya tanpa coba mempertanyakan realitanya, misal: - apakah kata-kata dan janji-janjinya dapat dipercaya, - apakah dia memang orang yang begitu sabar, caring, penuh tanggung jawab seperti yang selama ini ditampilkan - apakah realita hidup akan seperti ini terus penuh cumbu-rayu,rekreasi, jalan-jalan, cari hiburan) Pacaran adalah persiapan pernikahan, oleh karena itu pacaran Kristen tidak mengenal dimabuk cinta. Pacaran Kristen boleh?dinikmati tetapi harus berpegang pada hal-hal yang realistis.

Pacaran dari orang-orang non-Kristen hampir selalu activity-center. Isi dan pusat dari pacaran tidak lain daripada aktivitas (nonton, jalan-jalan, duduk berdampingan, cari tempat rekreasi, dsb.), sehingga pacaran 10 tahun pun tetap merupakan 2 pribadi yang saling tidak mengenal. Sedangkan pacaran orang-orang Kristen berbeda. Sekali lagi orang-orang Kristen juga boleh berekreasi dsb, tetapi centernya (isi dan pusatnya) bukan pada rekreasi itu sendiri, tapi pada dialog yaitu interaksi antara dua pribadi secara utuh (Martin Buber, I and Thou, by Walter Kauffmann, Charles Scribner's Sons, NY: 1970), sehingga hasilnya suatu pengenalan yang benar dan mendalam.

5.Proses Peralihan dari Sexual Oriented ke Personal Oriented.
Pacaran orang Kristen bukanlah saat untuk melatih dan melampiaskan kebutuhan seksuil. Orientasi dari kedua insan tsb,bukanlah pada hal-hal seksuil, tapi sekali lagi (seperti telah disebutkan dalam no. 4) pada pengenalan pribadi yang mendalam.
Jadi, masa pacaran memang tidak lain daripada masa persiapan pernikahan.
Oleh karena itu pengenalan pribadi yang mendalam adalah keharusan. Melalui dialog, kita akan mengenal beberapa hal yang sangat primer sebagai dasar pertimbangan apakah pacaran akan diteruskan atau putus sampai disini.

Beberapa hal yang primer tsb, antara lain:

* Imannya.
Apakah sebagai orang Kristen dia betul-betul sudah dilahirkan kembali (Yoh 3:3), mempunyai rasa takut akan Tuhan (Amsal 1:7)?lebih daripada ketakutannya pada manusia, sehingga di tempat-tempat yang tersembunyi dari mata manusia sekalipun ia tetap takut berbuat dosa. Apakah ia mempunyai kehausan akan kebenaran Allah dan menjunjung tinggi hal-hal rohani

* Kematangan Pribadinya.
Apakah ia dapat menyelesaikan konflik-konflik dalam hidupnya dengan cara yang baik Dapat bergaul dan menghormati orang-orang tua Apakah ia menghargai pendapat orang lain

* Temperamennya.
Apakah ia dapat menerima dan memberi kasih secara sehat Dapat menempatkan diri dalam lingkungan yang baru bahkan sanggup membina komunikasi dengan mereka Apakah emosinya cukup stabil

* Tanggung-jawabnya.
Apakah dia secara konsisten dapat menunjukkan tanggung-jawabnya,baik dalam studi, pekerjaan, uang, seks, dsb.

Kegagalan dialog akan menutup kemungkinan mengenali hal-hal yang primer di atas. Dan pacaran 10 tahun sekalipun belum mempersiapkan mereka memasuki phase pernikahan.

Kegagalan dalam dialog biasanya ditandai dengan pemikiran-pemikiran berikut:
* Saya takut bertengkar dengan dia, takut menanyakan hal-hal yang dia tidak sukai.
* Setiap kali bertemu kami selalu mencari acara keluar ... atau kami ingin selalu bercumbuan saja.
* Saya rasa dia akan meninggalkan saya kalau saya menuntut kebenaran yang saya yakini. Saya takut ditinggalkan.
* Saya tidak keberatan atas kebiasaannya, wataknya bahkan jalan pikirannya asalkan dia tetap mencintai saya, dsb.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar